Bareng | NUBareng.com - Kemeriahan spiritual yang begitu kental terasa di sudut Dusun Kembangtanjung menjelang pelaksanaan agenda besar Diba Kubro yang diinisiasi oleh Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat Nahdlatul Ulama Kecamatan Bareng. Bertempat di Masjid Al Amal Kembangtanjung pada hari Minggu, 20 September 2026, suasana khidmat langsung menyelimuti ratusan jemaah sejak pagi hari. Namun, ada pemandangan yang sangat istimewa sebelum gemuruh selawat diba berkumandang secara massal. Acara tahunan yang sangat dinantikan ini dibuka terlebih dahulu dengan lantunan suci ayat-ayat Al-Quran melalui prosesi Khotmil Quran yang dibawakan secara anggun dan fasih oleh para anggota Ikatan Hafidzah Fatayat Nahdlatul Ulama (IHF NU). Kehadiran para penjaga kalam ilahi ini seolah memberikan fondasi spiritual yang sangat kokoh, sekaligus menyucikan hati seluruh jemaah yang hadir sebelum memasuki acara inti Diba Kubro.

Kehadiran kelompok pelantun wahyu ini memantik rasa penasaran publik mengenai apa sebenarnya esensi dan makna di balik eksistensi Ikatan Hafidzah Fatayat Nahdlatul Ulama (IHF NU) itu sendiri. IHF NU bukanlah sekadar wadah berkumpul biasa, melainkan sebuah badan otonom atau komunitas khusus di bawah naungan Fatayat NU yang secara spesifik menghimpun para perempuan penghafal Al-Quran (hafidzah). Lembaga ini didirikan dengan visi luhur untuk menjaga kemurnian hafalan para anggotanya melalui metode muraja'ah atau pengulangan hafalan secara berkala dan terorganisir. Di samping itu, IHF NU mengemban misi sosial-keagamaan yang sangat strategis, yakni membumikan Al-Quran di tengah-tengah masyarakat modern, mengedukasi generasi muda, serta membuktikan bahwa perempuan penghafal Al-Quran mampu menjadi motor penggerak peradaban Islam yang moderat, berdaya, dan inklusif di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Keputusan PAC Fatayat NU Bareng untuk menempatkan Khotmil Quran oleh IHF NU sebagai upacara pembuka sebelum Diba Kubro dimulai bukanlah tanpa alasan yang mendalam. Secara filosofis, Khotmil Quran dipandang sebagai sarana untuk mengetuk pintu langit dan mengundang rida Allah SWT agar seluruh rangkaian acara Diba Kubro berjalan lancar dan penuh keberkahan. Ketika para hafidzah melantunkan ayat demi ayat tanpa melihat mushaf, getaran spiritual yang terpancar mampu menghanyutkan jiwa para hadirin dalam kekhusyukan yang luar biasa. Melalui kolaborasi ini, IHF NU menunjukkan peran nyatanya dalam menyelaraskan antara tradisi mencintai Al-Quran dengan tradisi menyanjung Baginda Nabi Muhammad SAW melalui pembacaan kitab maulid diba. Hal ini menciptakan harmoni ibadah yang sempurna, di mana pembersihan jiwa lewat firman Allah mendahului ekspresi cinta kepada sang rasul.

Pada akhirnya, momentum indah di Masjid Al Amal kembangtanjung pada hari Minggu tersebut menjadi bukti nyata betapa hidupnya roda organisasi PAC Fatayat NU Bareng dalam membina spiritualitas umat. Melalui integrasi antara IHF NU dan kegiatan Diba Kubro, Fatayat NU Bareng berhasil menciptakan sebuah standar baru dalam penyelenggaraan syiar Islam yang tidak hanya meriah secara kuantitas jemaah, tetapi juga kaya akan nilai-nilai edukasi dan kedalaman spiritual. Para tokoh masyarakat dan sesepuh yang hadir pun memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas dedikasi tanpa batas dari para hafidzah IHF NU yang terus konsisten mengawal benteng keimanan umat Islam. Kegiatan mulia ini diharapkan dapat terus berlanjut dan menginspirasi wilayah-wilayah lain untuk selalu mengutamakan Al-Quran dalam setiap sendi kehidupan dan pergerakan organisasi.